Di balik setiap produk digital yang lahir di Indonesia, selalu ada kegelisahan nyata yang dialami foundernya. Berikut adalah catatan wawancara mendalam bersama chatbotmoni, founder di balik BotMoni, tentang bagaimana mereka memvalidasi ide, mendapatkan traksi awal, dan menghadapi tantangan nyata di pasar lokal.

1. Titik Awal: Mengapa BotMoni Dibuat?

Sering kali kita merasa uang begitu cepat habis, tetapi tidak tahu sebenarnya digunakan untuk apa. Baru beberapa hari setelah gajian, rasanya uang sudah berkurang banyak. Setelah diperhatikan lebih jauh, masalahnya bukan selalu karena penghasilan yang sedikit, melainkan karena banyak pengeluaran kecil yang tidak terasa. Hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan tetap dibeli, dan jika dikumpulkan, pengeluaran kecil tersebut ternyata cukup besar.

Dari situlah saya melihat bahwa pencatatan keuangan itu penting. Dengan mencatat, kita bisa mengetahui ke mana uang yang kita dapatkan benar-benar digunakan dan mulai memahami kebiasaan keuangan kita sendiri.

"Lahirlah BotMoni, sebuah sistem pencatatan keuangan berbasis AI atau LLM. Pengguna tidak perlu lagi repot memilih jenis pencatatan, apakah pemasukan atau pengeluaran, tidak perlu menentukan kategori secara manual, dan berbagai pilihan lainnya. Pengguna juga diberi kebebasan untuk memilih cara yang paling nyaman, baik menggunakan bot berbasis WhatsApp, Telegram, maupun aplikasi Android."

2. Validasi Lapangan Sebelum Coding Terlalu Jauh

Banyak founder terjebak membangun fitur lengkap selama berbulan-bulan tanpa terlebih dahulu memastikan apakah produknya benar-benar dibutuhkan. Untuk BotMoni, langkah awal dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada calon pengguna untuk mencoba produk secara langsung.

Pada tahap pertama, saya memberikan akses gratis kepada siapa pun yang ingin mencoba BotMoni. Dengan begitu, saya bisa mendapatkan pengguna awal sekaligus melihat bagaimana mereka benar-benar menggunakan produk di kehidupan sehari-hari.

3. Trik Gerilya Mendapatkan 100 Pengguna Pertama

Alih-alih langsung mengandalkan iklan berbayar, strategi akuisisi awal dilakukan dengan memanfaatkan pengguna pertama untuk membangun jaringan pengguna berikutnya. Pendekatannya sederhana dan bersifat organik:

Saya memberikan akses gratis kepada orang yang ingin mencoba, dengan syarat mereka mengajak setidaknya tiga orang lainnya untuk ikut bergabung. Dengan cara ini, pertumbuhan awal BotMoni dibangun melalui rekomendasi dan jaringan pengguna sendiri.

4. Model Monetisasi & Alasan Penetapan Harga

Pada tahap awal, BotMoni masih sepenuhnya dibangun menggunakan modal pribadi. Seluruh kebutuhan pengembangan dan operasional ditanggung dari uang saku sendiri agar produk dapat terus berjalan dan berkembang.

Namun, ketika skala produk semakin besar, kebutuhan investasi juga akan semakin besar. Karena itu, saya mulai melihat pentingnya mencari investor yang dapat ikut mendukung dan mempercepat pengembangan BotMoni ke tahap berikutnya.

5. Pelajaran Termahal: Kesalahan yang Pernah Terjadi

Perjalanan membangun produk digital tentu tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi BotMoni adalah munculnya semakin banyak kompetitor dengan konsep produk yang serupa. Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya memiliki kepedulian terhadap pencatatan dan pengelolaan keuangan mereka.

"Tantangannya adalah semakin banyak kompetitor baru yang lahir dengan konsep produk yang serupa. Selain itu, masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya peduli terhadap keuangan mereka."

6. Tech Stack untuk Eksekusi Cepat

Untuk membangun produk dengan cepat sekaligus menjaga fondasi teknisnya tetap fleksibel, BotMoni menggunakan teknologi yang relatif ringan dan sesuai dengan kebutuhan produk.

BotMoni menggunakan Node.js sebagai teknologi utama, dengan Supabase sebagai backend, serta ditenagai oleh Gemini LLM sebagai pusat pemrosesan AI yang menjadi "otak" dalam memahami dan mengolah input pengguna.

7. Traksi Terkini & Rencana 6 Bulan ke Depan

Saat ini, BotMoni telah mulai mendapatkan traksi dari pengguna. Jumlah pengguna yang telah bergabung sudah mencapai lebih dari 150 orang. Angka ini menjadi salah satu validasi awal bahwa kebutuhan terhadap pencatatan keuangan yang lebih sederhana memang ada.

Dalam enam tahun ke depan, saya menargetkan BotMoni dapat mencapai setidaknya 1.000 pengguna. Target tersebut menjadi bagian dari perjalanan jangka panjang untuk terus mengembangkan produk, memperluas pengguna, dan menjadikan BotMoni sebagai solusi pencatatan keuangan yang semakin mudah digunakan.

8. Pesan untuk Rekan Maker di Indonesia

"Lanjutkan produk yang kamu garap. Tidak peduli kalau banyak tiruan. Selama kita punya keunikan, pasti akan ada user yang membutuhkan produk kita."